bertatap muka dengan beribu-ribu harapan dariNya.
Subhanaolloh sungguh sangat menakjubkan kesabarannya mendengar keluhan-keluhan
yang tidak sepantasnya ku katakan, tapi apa daya hanya Engkau lah yang maha
mendengar lagi maha petunjuk di saat diriku gundah.
Sekilas mata memandang kehidupan yang begitu keras dan penuh
persaingan dimana anak-anak kecil berlomba-lomba mencari tempat untuk mencari
nafkah, dengan keadaan yang penuh makna bahkan terpancar matahari yang
menyengat tubuh mudanya. Perjalanan yang menurutku masih panjang baginya,
pendidikan pun terlalaikan. Begitu perihnya melihat orang-orang yang terlupakan
oleh sekelompok atasan. Kembali ku ceritakan dan mengadu kepadaNya. Sangatlah
bersyukur aku menjadi aku yang istimewa di mata keluarga. Cinta yang tidak
hanya sebuah kata-kata bullshit
tapi cinta dari hati nurani kedua orang tua sampai aku menjadi orang
berpendidikan. Tak bisa merelakan dan tak kuat begitu orang tua meneteskan air
mata. Begitu perihnya dan sangat menyesal bahkan sirna semua sudah
kebahagiaanku. Orang tua adalah segalanya bagi anak yang selalu di asuhnya
dengan harapan menentramkan kehidupanNya. Insyalloh bila kita semua diberi
panjang umur, agar kita tidak lah menyesal.
Hari pun mulai bercerita oleh sesosok orang yang penuh
teka-tiki dan emosi yaitu aku. Dengan berkembangnya keegoisan ku mulailah aku
berulah. Bahkan diriku yang selalu ingat jadilah lalai. Tak begitu sadarkah
aku, sehingga dunia membodohi ku, orang-orang menertawakan ku, dan hewan-hewan
melecehkanku. Sekedar bercerita inilah hari-hariku, kutembus sinar harapan dan
kupadamkan kegelisahan terhadap orang yang berarti di ruang-ruang kelas kuliah.
Semua seperti jauh, diriku menjadi sendiri. Seujung rambut pun jarang ku dapat
keceriaan seperti yang aku impikan seperti mereka-mereka yang bersenang-senang
dengan segrombolan teman lainnya. Aku pun mulai diam, merenung, bercerita
kepada angin yang sejenak tak mempedulikanku. Oh betapa luka menjadi luka, luka
terus mendalam, sampai dalamnya awan pun tak dapat melihat kepedihanku. Hanya
egoku yang tau semuanya. Mungkin ku harus teriak sekencang mungkin agar
matahari bisa mendengar keluh kesah yang tak jelas kemana arah datangnya.
Mungkin dari sini lah aku mulai membuka cerita, dan mungkin juga aku sudah lama
lalai dan tak bercerita. Ya Allah begitu banyak godaan untuk ku agar terus menerus
sampai keujungnya kita umat manusia melalaikan Mu. Memang setan itu ada, ada
untuk menggrogoti setiap insan yang berpegang teguh kepadaNya. Dalam hati aku
mengucap ”Astaghfirullah”. Mungkin aku ingin menciptakan kebahagiaan hidupku
sendiri, tetapi Allah lah yang lebih berkuasa atas semua itu.
Dan hari terus berganti melewati daun-daun kering yang
berguguran. Kuharapkan jauh pergi kepedihan itu dengan segudang noda-noda yang
penuh dosa. Kini ku tutup kesalahan-kesalahan yang sempat menghampiri kehidupan
yang penuh misteri ini. Dari motivasi ini ku bergegas dan selalu menebar
senyuman di setiap penjuru. Kecerdasan, kesuksesan, dan kebahagiaan yang ingin
ku tanamkan dalam benak-benak masa depan yang sekiranya saat ini penuh tanda Tanya.
Optimis karena Allah itu ada sebagai sahabat kita, saling berkomunikasi, dan
berintaksi. Dimanapun kita berada, ingatlah sobat!! cerita ku berbicara dengan berbagai untaian
mutiara-mutiara hati yang penuh dengan sejuta harapan. Cerita yang menjadi
contoh kehidupan konkrit sebagai teladan kita semua agar kita jauh dari kelalaian
terhadap sang pencipta. Karena mungkin itu menjadi masalah terbesar
dalam kehidupan kita sampai kita tiada. Allah akan memenuhi janjinya kelak dan akan memberi hadiah yang tak
terduga di dunia yang fana.





0 komentar:
Posting Komentar